
NAIK JURONGK : Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, menyimpan padi di lumbung dalam acara Naik Jurongk di Balai Kepatihan, Rabu (8/10).
KETAPANG, MENITNEWS.id – Balai Agung Kepatihan Jaga Pati melaksanakan tradisi Naik Jurongk Tinggi, Rabu (8/10). Salah satu ritual dalam adat Dayak ini menjadi bukti pelestarian budaya Dayak di Ketapang.
“Bagi saya, ini bukan sekadar ritual adat, tetapi simbol persatuan, ungkapan syukur atas panen padi, dan bentuk nyata pelestarian warisan budaya leluhur Dayak,” ungkap Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, Rabu (8/10).
Dia mengaku, adat dan budaya adalah jati diri. Kalau adat dan budaya hilang, maka hilang pula jati diri sebagai bangsa. “Oleh karena itu, saya mengajak semua masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa bangga terhadap tradisi dan kearifan lokal,” ajak Alex.
Dia menjelaskan, Jurongk yang berarti lumbung padi, mengajarkan makna syukur, kebersamaan, sekaligus lambang kemakmuran dan ketahanan pangan. Semangat kemandirian pangan yang diwariskan leluhur Dayak ini sejalan dengan program ketahanan pangan nasional.
Sebagai Patih Jagapati, Alex menyadari tanggung jawab besar untuk menjaga dan menegakkan adat sekaligus mengayomi seluruh suku bangsa yang ada di Ketapang.
“Saya bukan hanya menjaga adat Dayak, tetapi juga mengayomi Melayu, Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa, dan semua yang hidup di Ketapang. Kita semua punya ruang yang sama untuk tumbuh dan berkembang di rumah besar kita, Ketapang,” tegasnya.
Dia menegaskan, tradisi Naik Jurongk Tinggi ini adalah pesan leluhur. Jangan pernah melupakan akar, jangan meninggalkan budaya, dan selalu pelihara kebersamaan. “Inilah semangat yang akan terus saya jaga dan wariskan untuk masa depan Ketapang,” ungkapnya.
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, Anggota DPR RI Cornelis, Bupati Sukamara, Masduki, Wakil Bupati Sanggau, Susana Harpena, serta unsur Forkopimda Ketapang.
Proses Naik Jurongk ini ditandai dengan naiknya para tokoh adat dan pejabat ke atas Jurongk sambil membawa wadah berisi padi untuk disimpan di lumbung, sebagai simbol rasa syukur dan doa untuk keberkahan.
Peletakan padi ini diawali oleh Bupati Ketapang, kemudian dilanjutkan oleh Wakil Gubernur, Anggota DPR RI, Ketua DAD Provinsi, Bupati Sukamara, Wakil Bupati Sanggau, serta tokoh masyarakat lainnya.
“Naik Jurongk tidak hanya menjadi wujud syukur kepada Tuhan, tetapi juga menjadi perekat sosial yang memperkuat nilai gotong royong, kekeluargaan, solidaritas, dan persatuan masyarakat Dayak,” pungkas Alex. (*)
